Senin, 06 April 2015

CONTOH CERITA TENTANG PENGALAMAN PRIBADI



 
Luka Letusan
Nakal,itulah julukkan yang pantas untuk masa kecilku. Sebenarnya aku adalah anak yang pendiam dan pemalu, namun meskipun begitu aku sama dengan anak-anak lain yang suka bermain dan bikin jengkel.
  Kejadian itu sudah lama, namun peristiwa itu sampai saat ini masih membekas dan teringat olehku. Kejadian di mana aku dan keluargaku sedang bercanda dan mengobrol dengan tetanggaku, entah apa yang dibicarakan. Sekian lama aku duduk di samping ayahku dan sesekali menjadi bahan pembicaraan mereka, aku pun mulai bosan dan jenuh dengan suasana ini.
Aku ingin bermain, namun bingung mau main apa. Aku melihat ayah sedang menyalakan rokoknya, tiba-tiba ide bagus berlalu di otakku,  dengan cepat kilat aku menyambar korek api itu sebelum dimasukkan ke saku ayahku. Namanya juga anak kecil pasti ada saja ulah yang bikin jengkel.
Dengan semangat 45 aku berlari ke dalam rumah untuk menjalankan ide bagusku. Dengan susah payah aku mencari kertas dan plastik yang bisa kubakar, aku sudah mencari di kamar, di ruang tamu, di kamar mandi, di samping rumah, di dapur, dan yang belum aku cari adalah di tempat sampah, “Aha, ketemu juga kamu, dari mana aja sih kamu dari tadi aku cari tau”, kataku pada kertas itu saat ku temui di tempat sampah.
Satu per satu kertas itu aku bakar, api yang berkobar-kobar bagaikan bandung lautan api, bahkan senang di hatiku juga ikut berkobar-kobar saat itu. Kejadian itu berawal dari kepulangan pamanku yang bekerja di RS. Entah mengapa dan untuk apa kepulangannya membawa botol impus bekas. Aku pun minta botol impus bekas tersebut dengan tujuan untuk di bakar, “Paman, botol impus itu buat rudi ya” kataku dengan memasang muka berharap. Tanpa menunggu jawaban, botol impus tersebut sudah beralih tangan kepadaku, dan tanpa curiga pamanku membiarkanku dengan botol impus tersebut.
Botol impus tersebut aku bakar bersama kertas yang telah menjadi abu. Tanpa berfikir apa resikonya, bahkan aku juga belum paham apa resiko tersebut. Lalu aku mengambil kayu kecil untuk membalik-balikan botol impus tadi.  Aku makin senang saja ketika botol impus tadi mengembang, namun apa yang terjadi selanjutnya?. Duuaaarr, tanpa ku duga botol itu meletus dan mengenai bagian kanan dan kiri pipiku.
 Kontan saja aku teriak dan disusul tangisan  histeris,”Aduh, aduh sakiitt bu.. aduh aduh”. Mendengar teriakan dan tangisanku seisi rumah menghampiriku dan segera menolongku, sampai-sampai tetanggaku juga menghampiriku. Aku tak peduli mereka, aku terus menangis dengan histerisnnya.
Kurasa lukaku sangat sakit. Sekian lama aku menangis, pamanku pun mengambil sepeda motornya. Bersama ayah dan pamanku, aku di bawa ke rumah sakit tempat pamanku bekerja. Di sana aku di rawat oleh dokter yang baik dan suster yang cantik. Aku di beri obat dan saleb untuk di oleskan di pinggiran lukaku. Walaupun sudah di beri obat tapi rasa sakit masih melekat di pipiku apalagi saat di olesi saleb tersebut.

Sesampainya di rumah aku di suruh makan dan minum obat yang di kasih dokter tadi. Walau dalam keadaan masih menangis dan menahan sakit, aku yang biasanya doyan makan, jadi tidak selera makan, aku hanya makan setengah dari isi piring tersebut.
Keesokan harinya setelah mandi pagi sakit di pipiku yang tembem kembali ku rasakan, karena terkena air di saat mandi dan terkena goresan baju saat memakai baju tadi. Seperti anak kecil lainnya yang saat sakit pasti nangis, hal itulah yang terjadi padaku. Di kamar aku menangis dengan kencangnya sampai kakakku terbangun dari mimpi indahnya.
Dengan berbagai cara ayahku mendiamkanku, di belikan jajan, permen, namun rasa sakit itu tidak bisa di obati dengan jajan ataupun permen. Lalu ibuku datang membawa pasta gigi dan mengoleskan pasta gigi tersebut ke lukaku, karena efek dingin dari pasta gigi tersebut membuat rasa sakit sedikit hilang dan membuatku sedikit tenang, namun aku tetap nangis walaupun tak sekencang tadi.
Saat aku sedang asik nonton kartun di siang hari, tiba-tibaku lukaku terasa perih, aku terus merengek-rengek dan aku pengen cepet sembuh. “sakit bu.. sakit, rengekku pada ibuku”. “ya nanti bakalan sembuh kalau kamu tidak nangis terus, jawab ibuku menenangkanku”. Di saat itu pula ayahku pulang kerja dengan membawa martabak dan mainan kesukaanku. Entah kenapa sakit itu tak kurasakan lagi. Aku hanya asik makan martabak sambil main mainan kesukaanku. Tiba-tiba aku mendengar suara yang tiap hari ku dengar. “kok gak nangis lagi” ledek ayahku, “biarin, nangis terus jadi laper, mending makan martabak aja” jawabku yang di susul tawa kakakku.
Saat matahari mulai lelah menerangi bumi ini, ibuku menyuruhku minum obat dan ia mengoleskan saleb pada lukaku. Namun aku langsung minta untuk mengoleskan saleb itu sendiri, tapi apa yang terjadi? Aku kembali menangis karena tanganku terlalu keras menekan ke lukaku. “aduuhh,  periiihhh”rengekku, “ di obati ibu gak mau, ngobatin sendiri gak bisa, nangis lagi” kata ibuku kesal.
Ayahku datang dan menenangkanku dengan menggendongku ke luar rumah. Tak lama kemudian pamanku datang dan menghampiri dan menannyakan keadaanku. “gimana rud, kok masih nangis aja, cowok kok cengeng, huuu” kata pamanku yang tidak ku jawab, lalu ayah dan pamanku mengobrol panjang lebar yang tidak ku mengerti sama sekali. Akhirnya aku hanya menjadi pendengar yang baik.  
Lama-lama telingaku merasa kenyang dan perutku merasa lapar oleh percakapan mereka. Lalu “ tok.. tok.. tok” Tiba –tiba ada tukang bakso lewat, pamanku pun membelikan bakso itu untukku. “kok dia tahu ya kalau aku lagi lapar” batinku. Entah  karena terlalu lapar  atau karena baksonya yang terlalu sedikit, tanpa malu aku habis 2 mangkuk bakso. Tingkah lakuku ini mengundang tawa setiap orang yang melihatku. Aku tidak mempedulikan mereka dan melanjutkan makan baksoku. Sampai sekarang luka itu masih membekas di wajahku dan bekas itulah yang membuatku ingat dengan masa kecilku yang nakal dan menggemaskan.
Jika aku sedang bercermin dan melihat luka di pipi tembeku ini, aku sering  ingat masa kecilku, aku selalu senyum-senyum sendiri dan merasa malu serta berfikir bahwa tidak selamanya wanita itu cengeng. Bahkan laki-laki pun juga bisa cengeng, contohnya aku, tapi itu dulu, kalau sekarang gak gitu lagi lo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar