Luka Letusan
Nakal,itulah
julukkan yang pantas untuk masa kecilku. Sebenarnya aku adalah anak yang
pendiam dan pemalu, namun meskipun begitu aku sama dengan anak-anak lain yang
suka bermain dan bikin jengkel.
Kejadian itu sudah lama, namun peristiwa itu
sampai saat ini masih membekas dan teringat olehku. Kejadian di mana aku dan
keluargaku sedang bercanda dan mengobrol dengan tetanggaku, entah apa yang
dibicarakan. Sekian lama aku duduk di samping ayahku dan sesekali menjadi bahan
pembicaraan mereka, aku pun mulai bosan dan jenuh dengan suasana ini.
Aku
ingin bermain, namun bingung mau main apa. Aku melihat ayah sedang menyalakan
rokoknya, tiba-tiba ide bagus berlalu di otakku, dengan cepat kilat aku menyambar korek api itu
sebelum dimasukkan ke saku ayahku. Namanya juga anak kecil pasti ada saja ulah
yang bikin jengkel.
Dengan
semangat 45 aku berlari ke dalam rumah untuk menjalankan ide bagusku. Dengan
susah payah aku mencari kertas dan plastik yang bisa kubakar, aku sudah mencari
di kamar, di ruang tamu, di kamar mandi, di samping rumah, di dapur, dan yang
belum aku cari adalah di tempat sampah, “Aha, ketemu juga kamu, dari mana aja
sih kamu dari tadi aku cari tau”, kataku pada kertas itu saat ku temui di
tempat sampah.
Satu
per satu kertas itu aku bakar, api yang berkobar-kobar bagaikan bandung lautan
api, bahkan senang di hatiku juga ikut berkobar-kobar saat itu. Kejadian itu
berawal dari kepulangan pamanku yang bekerja di RS. Entah mengapa dan untuk apa
kepulangannya membawa botol impus bekas. Aku pun minta botol impus bekas
tersebut dengan tujuan untuk di bakar, “Paman, botol impus itu buat rudi ya”
kataku dengan memasang muka berharap. Tanpa menunggu jawaban, botol impus
tersebut sudah beralih tangan kepadaku, dan tanpa curiga pamanku membiarkanku
dengan botol impus tersebut.
Botol
impus tersebut aku bakar bersama kertas yang telah menjadi abu. Tanpa berfikir
apa resikonya, bahkan aku juga belum paham apa resiko tersebut. Lalu aku
mengambil kayu kecil untuk membalik-balikan botol impus tadi. Aku makin senang saja ketika botol impus tadi
mengembang, namun apa yang terjadi selanjutnya?. Duuaaarr, tanpa ku duga botol
itu meletus dan mengenai bagian kanan dan kiri pipiku.
Kontan saja aku teriak dan disusul tangisan histeris,”Aduh, aduh sakiitt bu.. aduh aduh”.
Mendengar teriakan dan tangisanku seisi rumah menghampiriku dan segera
menolongku, sampai-sampai tetanggaku juga menghampiriku. Aku tak peduli mereka,
aku terus menangis dengan histerisnnya.
Kurasa
lukaku sangat sakit. Sekian lama aku menangis, pamanku pun mengambil sepeda
motornya. Bersama ayah dan pamanku, aku di bawa ke rumah sakit tempat pamanku
bekerja. Di sana aku di rawat oleh dokter yang baik dan suster yang cantik. Aku
di beri obat dan saleb untuk di oleskan di pinggiran lukaku. Walaupun sudah di
beri obat tapi rasa sakit masih melekat di pipiku apalagi saat di olesi saleb
tersebut.
Sesampainya
di rumah aku di suruh makan dan minum obat yang di kasih dokter tadi. Walau
dalam keadaan masih menangis dan menahan sakit, aku yang biasanya doyan makan,
jadi tidak selera makan, aku hanya makan setengah dari isi piring tersebut.
Keesokan
harinya setelah mandi pagi sakit di pipiku yang tembem kembali ku rasakan,
karena terkena air di saat mandi dan terkena goresan baju saat memakai baju
tadi. Seperti anak kecil lainnya yang saat sakit pasti nangis, hal itulah yang
terjadi padaku. Di kamar aku menangis dengan kencangnya sampai kakakku
terbangun dari mimpi indahnya.
Dengan
berbagai cara ayahku mendiamkanku, di belikan jajan, permen, namun rasa sakit
itu tidak bisa di obati dengan jajan ataupun permen. Lalu ibuku datang membawa
pasta gigi dan mengoleskan pasta gigi tersebut ke lukaku, karena efek dingin
dari pasta gigi tersebut membuat rasa sakit sedikit hilang dan membuatku
sedikit tenang, namun aku tetap nangis walaupun tak sekencang tadi.
Saat
aku sedang asik nonton kartun di siang hari, tiba-tibaku lukaku terasa perih,
aku terus merengek-rengek dan aku pengen cepet sembuh. “sakit bu.. sakit,
rengekku pada ibuku”. “ya nanti bakalan sembuh kalau kamu tidak nangis terus,
jawab ibuku menenangkanku”. Di saat itu pula ayahku pulang kerja dengan membawa
martabak dan mainan kesukaanku. Entah kenapa sakit itu tak kurasakan lagi. Aku
hanya asik makan martabak sambil main mainan kesukaanku. Tiba-tiba aku
mendengar suara yang tiap hari ku dengar. “kok gak nangis lagi” ledek ayahku,
“biarin, nangis terus jadi laper, mending makan martabak aja” jawabku yang di
susul tawa kakakku.
Saat
matahari mulai lelah menerangi bumi ini, ibuku menyuruhku minum obat dan ia
mengoleskan saleb pada lukaku. Namun aku langsung minta untuk mengoleskan saleb
itu sendiri, tapi apa yang terjadi? Aku kembali menangis karena tanganku
terlalu keras menekan ke lukaku. “aduuhh,
periiihhh”rengekku, “ di obati ibu gak mau, ngobatin sendiri gak bisa,
nangis lagi” kata ibuku kesal.
Ayahku
datang dan menenangkanku dengan menggendongku ke luar rumah. Tak lama kemudian
pamanku datang dan menghampiri dan menannyakan keadaanku. “gimana rud, kok
masih nangis aja, cowok kok cengeng, huuu” kata pamanku yang tidak ku jawab,
lalu ayah dan pamanku mengobrol panjang lebar yang tidak ku mengerti sama
sekali. Akhirnya aku hanya menjadi pendengar yang baik.
Lama-lama
telingaku merasa kenyang dan perutku merasa lapar oleh percakapan mereka. Lalu “
tok.. tok.. tok” Tiba –tiba ada tukang bakso lewat, pamanku pun membelikan
bakso itu untukku. “kok dia tahu ya kalau aku lagi lapar” batinku. Entah karena terlalu lapar atau karena baksonya yang terlalu sedikit,
tanpa malu aku habis 2 mangkuk bakso. Tingkah lakuku ini mengundang tawa setiap
orang yang melihatku. Aku tidak mempedulikan mereka dan melanjutkan makan
baksoku. Sampai sekarang luka itu masih membekas di wajahku dan bekas itulah
yang membuatku ingat dengan masa kecilku yang nakal dan menggemaskan.
Jika
aku sedang bercermin dan melihat luka di pipi tembeku ini, aku sering ingat masa kecilku, aku selalu senyum-senyum
sendiri dan merasa malu serta berfikir bahwa tidak selamanya wanita itu
cengeng. Bahkan laki-laki pun juga bisa cengeng, contohnya aku, tapi itu dulu,
kalau sekarang gak gitu lagi lo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar