Menentang Pilihan
Karakter tokoh:
1. Taniya:
umur sekitar 17 tahunan, pintar, penurut, baik hati, rajin.
2. Bapak:
umur sekitar 40 tahunan, tegas, keras kepala, pemaksa.
3. Ibu:
umur sekitar 39 tahunan, penyayang, sabar, penurut.
4. Emilia:
umur sekitar 17 tahunan, riang, semangat, baik hati, penyayang.
5. Indri:
umur sekitar 17 tahunan, centil,
baik, perhatian.
6. Novan:
umur 17 tahunan, pengertian, baik, riang.
Malam yang gelap, di kamar yang tentram, nyaman dan
menenangkan hati pemiliknya.Kamar Taniya, kamar yang terdapat sebuah mading
kecil buatan tangannya yang dirangkai dengan penuh pengorbanan.Sebagai sarana
menuangkan hobi menulisnya.
Kriiik
kriik kriikkkk….
Taniya:”Kayaknya
udah deh ini, hehe proposal hidupku. Siip, siap ditempel.(sambil menempelnya ke
mading kecilnya)
Bapak:”Ehemm..”(komat-kamit
membaca coretan Taniya di mading)”Bapak sudah cabut data kamu di SMA 2.”
Taniya:”Apaaa?
Tapi kenapa pak? Bukankah SMA itu bagus? Terkenal dan idaman banyak
orang…”(dengan nada menggertak)
Bapak:”Kamu
pasti sudah tau alasannya apa?Bapak sudah bilang berkali-kali bapak tidak
pernah setuju kamu sekolah di sana. Tapia apa? kamu diam-diam ikut seleksi.
Bapak sudah trauma nyekolahin anak di SMA 2, lihat mbakmu, jadi apa
sekarang?”(dengan nada membentak)
Taniya:(memasang
wajah cemberut)”Mbak ya mbak, aku ya aku. Kenapa harus disama-samain?”
Ibu:(masuk
dari balik pintu, duduk di samping Taniya sambil mengelus pundak Taniya)”Sudah
lah nduk. Kamu turutin aja kata bapak. Ndak cuma bapak aja yang trauma, tapi
ibuk juga sama.”
Taniya:”Tapi
kan buuk..Aku pengen banget sekolah di situ.Ijinin dong pak.”(memelas)
Bapak:“Bapak
tidak peduli, biayai sendiri sana sekolahmu di SMA 2. Ayo buk kita pergi!”bruuuaaakkk(meninggalkan Taniya dan Ibu di kamar)
Ibu:”Nduk kamu kan ngerti bapak itu orangnya keras
kepala. Kamu turutin aja maunya bapak”.
Taniya:”Iya deh buk, tapi...”
Ibu:”Yasudah ibu tinggal dulu ya nduk”
Taniya:(mematung
kaku di depan mading. Sambil menangis terisak tak kuasa ia menahan air matanya
karena mimpinya terbunuh begitu saja)”hhiiikkss hiikkksss…semua mimpi yang aku
perjuangkan kini sudah terputus.Hancuur begitu saja.”
Siang hari di ruang tamu.Ketiga sahabat Taniya
berkunjung ke rumahnya untuk menghibur Taniya.
Indri,
Emilia, dan Novan:” Assalamualaikum…”
Ibu:(membuka
pintu)”waalaikum salam. Eeehh
kalian, nyariin Niya ya?Niya lagi di kamar, dari pulang sekolah nggak mau
keluar kamar.Ayo silakan masuk, biar tante panggil Niya dulu.”
Emilia:”Iya
tante..”(tersenyum manis)
Novan:”Eh
ndri, Niya tadi kok aneh ya? Dia kelihatan lesu.Ada apa sih?”
Emilia:”Iya
iyaa..biasanya kan dia selalu ceria.”
Indri:”Mungkin
dia ada masalah, tadi aku ajakin bicara dia kayak nggak ngrespon gitu.”
Taniya:(datang
dari kamarnya langsung duduk di samping Indri dengan cuek).
Ibu:(datang
dari dapur membawa 3 cangkir teh untuk sahabat Taniya)”Ayo ini diminum dulu.”
Emilia:”Hehe,
iya tante. Kok repot-repot.”
Ibu:(tersenyum
lebar)“Udah diminum aja. Ndak usah sungkan, anggap aja rumah sendiri.”
Novan:”Iya
tante, tante tau aja kalo saya lagi haus.”
Indri:(menyubit
tangan Novan)”Hehe, biasa tante Novan akhir-akhir ini suka bercanda.”
Bapak:”Ehh
udah lama?”(sambil sersalaman dengan ketiga sahabat Taniya)
Emilia:”Baru
aja om.”
Bapak:”Om
tinggal ke belakang dulu ya.”
Novan:”iya
om”
Indri:”Ya
kamu kenapa? Cerita dong ke aku!”
Taniya:
“Aku lagi sedih Ndri, mimpiku hancur. Bapak nggak ngizinin aku sekolah di SMA
2.”
Indri:”Udah
lah, sekolah negri masih banyak kok. Nggak usah difikir.”
Taniya:”Tapi
Ndri, Cuma di SMA 2 aja yang punya jurusan bahasa.Lainnya enggak.”
Bapak:”Biar
saja Ndri, wong dari awal sudah tak larang sekolah di sana. Tetep ngeyel
aja….wes gini aja kamu pilih SMA 3 apa SMK. Kalau pilih yang lain karuan nggak
usah sekolah”(timpal bapak dari balik pintu tengah)
Emilia:”Udah
di SMA 3 aja, kenapa sih? Kita juga mau ke sana.”
Novan:”Iya
Ya… Kita juga mau daftar ke SMA 3, kita akan berkumpul lagi seperti masa-masa
SMP. Kalau kamu mau, nanti waktu daftar aku jemput deh..kita daftar
bareng-bareng gimana?”
Emilia:”Setuju-setuju.”
Ibu:(datang
dari belakang)”Teman-temanmu aja mau sekolah di SMA 3, lagian kan dekat dari
rumah, jadi ibuk ndak kuwatir nduk.”(mengelus rambut Taniya)
Taniya:”Yaudah
aku sekolah di SMA 3.”
Indri:”Udah
sore nih Ya. Kita balik dulu ya?”
Ibu:”Loh
kok cepet-cepet? Tehnya aja belum habis.”
Novan:”Hehe,
besok-besok kita main kesini
lagi.”
Ibu:(tersenyum
sambil bersaliman)
Emilia:”Kita
balik dulu ya Ya, Assalamualaikum.”
Bapak,
Ibu, Taniya:”Waalaikumsalam.”
Bapak:”Naah,
gini kan bagus, sekolah di SMA 3 nggak usah jauh-jauh jalan aja udah sampek ya
buk.”
Ibu:”Iya pak biar kita ndak khawatir lagi.”
Taniya:(diam tak menjawab, sembari menuju kamarnya)
Keesokan
harinya, saat pendaftaran.
Emilia:”Aduuuhhh,
tinggal nunggu hasilnya nih.”
Novan:”Iya
niih, aku jadi takut.”
Taniya:”Takut
kenapa?”
Novan:”takut
nggak lolos.Wah kamu urutan 45 Ya.” (Sambil melihat papan dari kejauhan)
Pengumuman pun telah
ditetapkan Novan, Indri, dan Eilia tidak
lolos tes dan tidak bisa
bersekolah di SMA 3 bersama Taniya.
Emilia:”Wahh..kamu
hebat Ya bisa masuk SMA 3.”(menepuk pundal Taniya)
Taniya:”Apa
kalian lupa?”
Indri:(menangis)”Iya
Ya.. kita bakalan nggak satu sekolah lagi, nggak bisa kumpul lagi kayak
masa-masa di SMP dulu.”
Novan:”Iya,
kalau sudah begini ya mau gimana lagi?”
Emilia:”Hiiiikkksss,
kamu jaga baik-baik ya Ya, aku, Indri, sama Novan nggak bakal nglupain kamu.
Kita semua sayang sama kamu.”(sambil memeluk Taniya)
Taniya:”Iya
Mil, (menangis menyesal).”
Novan:”Udah
jangan nangis kek gitu Mil.”
Emilia:”Aku
kasian Taniya, dia udah ngebelain daftar kesini tujuannya ya biar bisa bareng
sama kita. Tapi, liat kita aja nggak masuk. Kasian Taniya, dia sendiri.”
Indri:(menahan
air mata)
Novan:”Taniya
udah gedhe Mil, dia bisa kok adaptasi. Nggak kayak waktu dulu masih kecil.”
Indri:”Kamu
nggak papa kan Ya?Seenggaknya kamu udah nurutin kata bapakmu.”
Taniya:(tersenyum
pahit)”Udah deh guys aku nggak papa, kalian jaga diri baik-baik ya. Aku bakalan
kangen sama canda tawa kaliyan semua.”
Emilia:”Iya
Yaa, aku ndak bakal nglupain kamu.”
Novan:”Ayo
kita pulang aja.”
Taniya:”Gimana
kalo kita ke kafe kayak biasa.”
Emilia:(sambil
mengusap air matanya)”Enggak ah aku males, sedih nggak sesekolah sama Taniya.”
Novan:”Alaaahhh
nggak usah gitu Mil, aku tau kalo kamu itu mau aku traktir.”
Indri:”Ohh
iyaaa ini ulangtahun mu kan? Met ultah ya Vaann!!”
Taniya:”Masak
siiihh? Happy birthday Van!”
Novan:”Iya
makasih, hehe. Gimana Mil ikut nggak aku traktirin?”
Emilia:(menahan
malu)”Yaudah ayoo!”
Taniya:”Miil
Miill… ada-ada aja!”(tertawa)
Novan:”Udah
dari dulu kek gitu.”
Indri:”hahaha
iya iyaa.”
Emilia:”Selamat
ulang tahun ya Van.”(sambil mengulurkan tangan, tersenyum menahan malu.”
Novan:(berjabat
tangan dengan Emilia, sambil tersenyum lebar)”Terimakasih Emil, hehehe.”
Emilia:”Apa-apaan
sih kamu nih. Udah diucapin selamat ulang tahun malah ngejek gitu mukanya.”
Taniya:”Udah
dari sononya mukanya kek gitu”(tertawa lepas)
Indri:”Hahaha….
Ada-ada aja kalian guys.”
Taniya:”Loh,
emang bener!”
Novan:”Kok
jadi aku yang dibuli, resek deh.”
Emilia:”Hahaha
kamu kan ulang tahun hari ini, masih mending cuma dibuli kalo kita siram telur,
tepung, sama air emang mau?”
Novan:”Enggak
deh, jangan. Nanti ketampananku hilang dong.”(mengelus rambutnya)
Indri,
Taniya, Emilia:”Hahahaha…”
Novan:”Nanti
karisma ku jadi luntur kena telur, hancur terkena tepung dan hanyut tersiram
air.”
Indri:”Itu
karisma apa roti?”
Novan:”Enak
aja, ya karisma lah masak roti. Kamu aneeh, lucuuuu. Hahaha..”
Taniya:”Udah
jangan diladenin.”(melirik sinis ke Novan)
Novan:(membalas
melirik Taniya)
Emilia:”Helooooo.
Kitanya kapan ke kafe, debat aja dari tadi.”
Taniya:”Katanya
nggak ikut?”
Emilia:”Yaudah
aku nggak ikut.”(dengan wajah kecewa)
Indri:”Jangan
gitu dong Ya! Kasian, Emil nanti kelaperan, kan aku tau banget jam berapa dia
laper.”(tersenyum memandang Emilia)”
Taniya:”Nggak
nggak Mil aku cuma becanda doang.”
Novan:”Ayo
kita capcus!”
Emilia:”Aduh
Novan alay.”
Sesampainya di kafe biasa mereka
kumpul.
Novan:”Pesen
apa kalian?”
Taniya:”Samaan
aja biar cepet.”
Indri:”Kayak
biasanya aja.”
Emilia:”Eeitss…
emmm aku mau beda (berhenti dan mulai berfikir cepat) eeh..nggak jadi deh.
Samaan kaliyan aja.Hehe.”
Novan:”Yaudah
aku pesenin dulu.”
Taniya:(menahan
air mata)
Indri:”Kamu
kenapa Ya?”
Taniya:”Nggak
kok Ndri.”
Indri.”Kamu
kepikiran itu ya?”
Taniya:(diam)
Emilia:”Udah
deh Ya, jangan sedih.”
Taniya:”Aku
nggak kuat sama bapak yang selalu menekan aku. Disuruh nurutin apa yang ia
katakan.”
Emilia:”Dia
nglakuin itu demi kabaikanmu juga Ya.”
Taniya:”Denger-denger
bapak mau nyuruh aku ikut kelas IPA. Dan aku nggak suka.Aku sukanya bahasa, itu
aja.”
Indri:”Kamu
turutin aja, nikmatin setiap langkahmu, pasti menyenangkan.”
Taniya:(terdiam)
Emilia:”Nggak
usah sedih deh Ya, kami ada buat kamu kok.”
Beberapa menit kemudian Novan datang.Setelah mereka
selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang.
Keesokan harinya di rumah Taniya
Ibu:”gimana pengumumannya,semua lolos kan?.”
Novan:”nggak tahu te, tanya aja sama Indri!”
Indri:”Kok aku sih? Kamu aja!”
Emilia: (menyenggol Taniya)
Taniya:”Cuma aku buk.”
Bapak:”(datang dari belakang) “Alhamdulillah” (kemudian
duduk di sofa)
Ibu:”Gimana sih bapak, yang ketrim Cuma Taniya kok
bapakAlhamdulilah?”( sambil menepuk bahu bapak)
Bapak:” Ya bagus dong”
Ibu:”Pak, bapak ndak boleh egois seperti itu. Ibuk juga
ndak tega kalau Taniya di sana sendirian, Taniya kan butuh adaptasi.”
Bapak:”Kan, nanti di sana punya tememn baru”
Taniya:”Tapi ndak semudah itu, pak.”
Ibu:”Sudah-sudah. Nanti coba jalur nilai UN saja.”
Indri:”Emang kita bisa?, orang jalur test aja nggak
lolos!”
Ibu:”Ya semoga saja bisa,kalian berdo’a saja biar nilai
UN kalian bagus. Tante juga ikut ngedoain”
Novan:”Iya amin, amin, amiiin, tante.”
Emilia:”iya amin, biar kita bisa bareng-bareng lagi.”
Bapak:”iya, biar bisa nemenin Taniya”
Novan:”Iya, iya om.”
Indri;”Yasudah, ini sudah sore, ayo kita pulang.”
Novan:’Ayo-ayo”
Emilia:”Yasudah deh. Kita pulang dulu ya tante, om, ya?
Indri,Novan,Emilia: (bersalaman) “Assalamualaikum..”
Bapak,Ibu,Taniya:”Waalaikumsalam..”
Dua hari kemudian pengumuman nilai UN keluar. Novan,
Indri, Emilia mendapat nilai UN yang sangat bagus dan mereka bisa diterima di
SMA 2, seperti Taniya. Dan mereka langsung menuju rumah Taniya.
Emilia: (dengan wajah bahagia dan semangat) “ayo kita ke
rumah Taniya.”
Novan:”ayoo.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar