Senin, 06 April 2015

DRAMA BAHASA INDONESIA 6 ORANG



Menentang Pilihan
Karakter tokoh:
1.      Taniya: umur sekitar 17 tahunan, pintar, penurut, baik hati, rajin.
2.      Bapak: umur sekitar 40 tahunan, tegas, keras kepala, pemaksa.
3.      Ibu: umur sekitar 39 tahunan, penyayang, sabar, penurut.
4.      Emilia: umur sekitar 17 tahunan, riang, semangat, baik hati, penyayang.
5.      Indri: umur sekitar 17 tahunan, centil, baik, perhatian.
6.      Novan: umur 17 tahunan, pengertian, baik, riang.
Malam yang gelap, di kamar yang tentram, nyaman dan menenangkan hati pemiliknya.Kamar Taniya, kamar yang terdapat sebuah mading kecil buatan tangannya yang dirangkai dengan penuh pengorbanan.Sebagai sarana menuangkan hobi menulisnya.
Kriiik kriik kriikkkk….
Taniya:”Kayaknya udah deh ini, hehe proposal hidupku. Siip, siap ditempel.(sambil menempelnya ke mading kecilnya)
Bapak:”Ehemm..”(komat-kamit membaca coretan Taniya di mading)”Bapak sudah cabut data kamu di SMA 2.”
Taniya:”Apaaa? Tapi kenapa pak? Bukankah SMA itu bagus? Terkenal dan idaman banyak orang…”(dengan nada menggertak)
Bapak:”Kamu pasti sudah tau alasannya apa?Bapak sudah bilang berkali-kali bapak tidak pernah setuju kamu sekolah di sana. Tapia apa? kamu diam-diam ikut seleksi. Bapak sudah trauma nyekolahin anak di SMA 2, lihat mbakmu, jadi apa sekarang?”(dengan nada membentak)
Taniya:(memasang wajah cemberut)”Mbak ya mbak, aku ya aku. Kenapa harus disama-samain?”
Ibu:(masuk dari balik pintu, duduk di samping Taniya sambil mengelus pundak Taniya)”Sudah lah nduk. Kamu turutin aja kata bapak. Ndak cuma bapak aja yang trauma, tapi ibuk juga sama.”
Taniya:”Tapi kan buuk..Aku pengen banget sekolah di situ.Ijinin dong pak.”(memelas)
Bapak:“Bapak tidak peduli, biayai sendiri sana sekolahmu di SMA 2. Ayo buk kita pergi!”bruuuaaakkk(meninggalkan Taniya dan Ibu di kamar)
Ibu:”Nduk kamu kan ngerti bapak itu orangnya keras kepala. Kamu turutin aja maunya bapak”.
Taniya:”Iya deh buk, tapi...”


Ibu:”Yasudah ibu tinggal dulu ya nduk”
Taniya:(mematung kaku di depan mading. Sambil menangis terisak tak kuasa ia menahan air matanya karena mimpinya terbunuh begitu saja)”hhiiikkss hiikkksss…semua mimpi yang aku perjuangkan kini sudah terputus.Hancuur begitu saja.”
Siang hari di ruang tamu.Ketiga sahabat Taniya berkunjung ke rumahnya untuk menghibur Taniya.
Indri, Emilia, dan Novan:” Assalamualaikum…”
Ibu:(membuka pintu)”waalaikum salam. Eeehh kalian, nyariin Niya ya?Niya lagi di kamar, dari pulang sekolah nggak mau keluar kamar.Ayo silakan masuk, biar tante panggil Niya dulu.”
Emilia:”Iya tante..”(tersenyum manis)
Novan:”Eh ndri, Niya tadi kok aneh ya? Dia kelihatan lesu.Ada apa sih?”
Emilia:”Iya iyaa..biasanya kan dia selalu ceria.”
Indri:”Mungkin dia ada masalah, tadi aku ajakin bicara dia kayak nggak ngrespon gitu.”
Taniya:(datang dari kamarnya langsung duduk di samping Indri dengan cuek).
Ibu:(datang dari dapur membawa 3 cangkir teh untuk sahabat Taniya)”Ayo ini diminum dulu.”
Emilia:”Hehe, iya tante. Kok repot-repot.”
Ibu:(tersenyum lebar)“Udah diminum aja. Ndak usah sungkan, anggap aja rumah sendiri.”
Novan:”Iya tante, tante tau aja kalo saya lagi haus.”
Indri:(menyubit tangan Novan)”Hehe, biasa tante Novan akhir-akhir ini suka bercanda.”
Bapak:”Ehh udah lama?”(sambil sersalaman dengan ketiga sahabat Taniya)
Emilia:”Baru aja om.”
Bapak:”Om tinggal ke belakang dulu ya.”
Novan:”iya om”
Indri:”Ya kamu kenapa? Cerita dong ke aku!”
Taniya: “Aku lagi sedih Ndri, mimpiku hancur. Bapak nggak ngizinin aku sekolah di SMA 2.”
Indri:”Udah lah, sekolah negri masih banyak kok. Nggak usah difikir.”
Taniya:”Tapi Ndri, Cuma di SMA 2 aja yang punya jurusan bahasa.Lainnya enggak.”
Bapak:”Biar saja Ndri, wong dari awal sudah tak larang sekolah di sana. Tetep ngeyel aja….wes gini aja kamu pilih SMA 3 apa SMK. Kalau pilih yang lain karuan nggak usah sekolah”(timpal bapak dari balik pintu tengah)
Emilia:”Udah di SMA 3 aja, kenapa sih? Kita juga mau ke sana.”
Novan:”Iya Ya… Kita juga mau daftar ke SMA 3, kita akan berkumpul lagi seperti masa-masa SMP. Kalau kamu mau, nanti waktu daftar aku jemput deh..kita daftar bareng-bareng gimana?”


Emilia:”Setuju-setuju.”
Ibu:(datang dari belakang)”Teman-temanmu aja mau sekolah di SMA 3, lagian kan dekat dari rumah, jadi ibuk ndak kuwatir nduk.”(mengelus rambut Taniya)
Taniya:”Yaudah aku sekolah di SMA 3.”
Indri:”Udah sore nih Ya. Kita balik dulu ya?”
Ibu:”Loh kok cepet-cepet? Tehnya aja belum habis.”
Novan:”Hehe, besok-besok kita main kesini lagi.”
Ibu:(tersenyum sambil bersaliman)
Emilia:”Kita balik dulu ya Ya, Assalamualaikum.”
Bapak, Ibu, Taniya:”Waalaikumsalam.”
Bapak:”Naah, gini kan bagus, sekolah di SMA 3 nggak usah jauh-jauh jalan aja udah sampek ya buk.”
Ibu:”Iya pak biar kita ndak khawatir lagi.”
Taniya:(diam  tak menjawab, sembari menuju kamarnya)
Keesokan harinya, saat pendaftaran.
Emilia:”Aduuuhhh, tinggal nunggu hasilnya nih.”
Novan:”Iya niih, aku jadi takut.”
Taniya:”Takut kenapa?”
Novan:”takut nggak lolos.Wah kamu urutan 45 Ya.” (Sambil melihat papan dari kejauhan)
Pengumuman pun telah ditetapkan Novan, Indri, dan Eilia tidak lolos tes dan tidak bisa bersekolah di SMA 3 bersama Taniya.
Emilia:”Wahh..kamu hebat Ya bisa masuk SMA 3.”(menepuk pundal Taniya)
Taniya:”Apa kalian lupa?”
Indri:(menangis)”Iya Ya.. kita bakalan nggak satu sekolah lagi, nggak bisa kumpul lagi kayak masa-masa di SMP dulu.”
Novan:”Iya, kalau sudah begini ya mau gimana lagi?”
Emilia:”Hiiiikkksss, kamu jaga baik-baik ya Ya, aku, Indri, sama Novan nggak bakal nglupain kamu. Kita semua sayang sama kamu.”(sambil memeluk Taniya)
Taniya:”Iya Mil, (menangis menyesal).”
Novan:”Udah jangan nangis kek gitu Mil.”
Emilia:”Aku kasian Taniya, dia udah ngebelain daftar kesini tujuannya ya biar bisa bareng sama kita. Tapi, liat kita aja nggak masuk. Kasian Taniya, dia sendiri.”
Indri:(menahan air mata)
Novan:”Taniya udah gedhe Mil, dia bisa kok adaptasi. Nggak kayak waktu dulu masih kecil.”


Indri:”Kamu nggak papa kan Ya?Seenggaknya kamu udah nurutin kata bapakmu.”
Taniya:(tersenyum pahit)”Udah deh guys aku nggak papa, kalian jaga diri baik-baik ya. Aku bakalan kangen sama canda tawa kaliyan semua.”
Emilia:”Iya Yaa, aku ndak bakal nglupain kamu.”
Novan:”Ayo kita pulang aja.”
Taniya:”Gimana kalo kita ke kafe kayak biasa.”
Emilia:(sambil mengusap air matanya)”Enggak ah aku males, sedih nggak sesekolah sama Taniya.”
Novan:”Alaaahhh nggak usah gitu Mil, aku tau kalo kamu itu mau aku traktir.”
Indri:”Ohh iyaaa ini ulangtahun mu kan? Met ultah ya Vaann!!”
Taniya:”Masak siiihh? Happy birthday Van!”
Novan:”Iya makasih, hehe. Gimana Mil ikut nggak aku traktirin?”
Emilia:(menahan malu)”Yaudah ayoo!”
Taniya:”Miil Miill… ada-ada aja!”(tertawa)
Novan:”Udah dari dulu kek gitu.”
Indri:”hahaha iya iyaa.”
Emilia:”Selamat ulang tahun ya Van.”(sambil mengulurkan tangan, tersenyum menahan malu.”
Novan:(berjabat tangan dengan Emilia, sambil tersenyum lebar)”Terimakasih Emil, hehehe.”
Emilia:”Apa-apaan sih kamu nih. Udah diucapin selamat ulang tahun malah ngejek gitu mukanya.”
Taniya:”Udah dari sononya mukanya kek gitu”(tertawa lepas)
Indri:”Hahaha…. Ada-ada aja kalian guys.”
Taniya:”Loh, emang bener!”
Novan:”Kok jadi aku yang dibuli, resek deh.”
Emilia:”Hahaha kamu kan ulang tahun hari ini, masih mending cuma dibuli kalo kita siram telur, tepung, sama air emang mau?”
Novan:”Enggak deh, jangan. Nanti ketampananku hilang dong.”(mengelus rambutnya)
Indri, Taniya, Emilia:”Hahahaha…”
Novan:”Nanti karisma ku jadi luntur kena telur, hancur terkena tepung dan hanyut tersiram air.”
Indri:”Itu karisma apa roti?”
Novan:”Enak aja, ya karisma lah masak roti. Kamu aneeh, lucuuuu. Hahaha..”
Taniya:”Udah jangan diladenin.”(melirik sinis ke Novan)
Novan:(membalas melirik Taniya)
Emilia:”Helooooo. Kitanya kapan ke kafe, debat aja dari tadi.”

Taniya:”Katanya nggak ikut?”
Emilia:”Yaudah aku nggak ikut.”(dengan wajah kecewa)
Indri:”Jangan gitu dong Ya! Kasian, Emil nanti kelaperan, kan aku tau banget jam berapa dia laper.”(tersenyum memandang Emilia)”
Taniya:”Nggak nggak Mil aku cuma becanda doang.”
Novan:”Ayo kita capcus!”
Emilia:”Aduh Novan alay.”
           Sesampainya di kafe biasa mereka kumpul.
Novan:”Pesen apa kalian?”
Taniya:”Samaan aja biar cepet.”
Indri:”Kayak biasanya aja.”
Emilia:”Eeitss… emmm aku mau beda (berhenti dan mulai berfikir cepat) eeh..nggak jadi deh. Samaan kaliyan aja.Hehe.”
Novan:”Yaudah aku pesenin dulu.”
Taniya:(menahan air mata)
Indri:”Kamu kenapa Ya?”
Taniya:”Nggak kok Ndri.”
Indri.”Kamu kepikiran itu ya?”
Taniya:(diam)
Emilia:”Udah deh Ya, jangan sedih.”
Taniya:”Aku nggak kuat sama bapak yang selalu menekan aku. Disuruh nurutin apa yang ia katakan.”
Emilia:”Dia nglakuin itu demi kabaikanmu juga Ya.”
Taniya:”Denger-denger bapak mau nyuruh aku ikut kelas IPA. Dan aku nggak suka.Aku sukanya bahasa, itu aja.”
Indri:”Kamu turutin aja, nikmatin setiap langkahmu, pasti menyenangkan.”
Taniya:(terdiam)
Emilia:”Nggak usah sedih deh Ya, kami ada buat kamu kok.”
            Beberapa menit kemudian Novan datang.Setelah mereka selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang.
Keesokan harinya di rumah Taniya
Ibu:”gimana pengumumannya,semua lolos kan?.”
Novan:”nggak tahu te, tanya aja sama Indri!”
Indri:”Kok aku sih? Kamu aja!”

Emilia: (menyenggol Taniya)
Taniya:”Cuma aku buk.”
Bapak:”(datang dari belakang) “Alhamdulillah” (kemudian duduk di sofa)
Ibu:”Gimana sih bapak, yang ketrim Cuma Taniya kok bapakAlhamdulilah?”( sambil menepuk bahu bapak)
Bapak:” Ya bagus dong”
Ibu:”Pak, bapak ndak boleh egois seperti itu. Ibuk juga ndak tega kalau Taniya di sana sendirian, Taniya kan butuh adaptasi.”
Bapak:”Kan, nanti di sana punya tememn baru”
Taniya:”Tapi ndak semudah itu, pak.”
Ibu:”Sudah-sudah. Nanti coba jalur nilai UN saja.”
Indri:”Emang kita bisa?, orang jalur test aja nggak lolos!”
Ibu:”Ya semoga saja bisa,kalian berdo’a saja biar nilai UN kalian bagus. Tante juga ikut ngedoain”
Novan:”Iya amin, amin, amiiin, tante.”
Emilia:”iya amin, biar kita bisa bareng-bareng lagi.”
Bapak:”iya, biar bisa nemenin Taniya”
Novan:”Iya, iya om.”
Indri;”Yasudah, ini sudah sore, ayo kita pulang.”
Novan:’Ayo-ayo”
Emilia:”Yasudah deh. Kita pulang dulu ya tante, om, ya?
Indri,Novan,Emilia: (bersalaman) “Assalamualaikum..”
Bapak,Ibu,Taniya:”Waalaikumsalam..”
Dua hari kemudian pengumuman nilai UN keluar. Novan, Indri, Emilia mendapat nilai UN yang sangat bagus dan mereka bisa diterima di SMA 2, seperti Taniya. Dan mereka langsung menuju rumah Taniya.
Emilia: (dengan wajah bahagia dan semangat) “ayo kita ke rumah Taniya.”
Novan:”ayoo.”
Indri:”Pasti bapaknya, ibuknya dan taniya seneng deh kita bisa kumpul lagi.”

CONTOH CERITA TENTANG PENGALAMAN PRIBADI



 
Luka Letusan
Nakal,itulah julukkan yang pantas untuk masa kecilku. Sebenarnya aku adalah anak yang pendiam dan pemalu, namun meskipun begitu aku sama dengan anak-anak lain yang suka bermain dan bikin jengkel.
  Kejadian itu sudah lama, namun peristiwa itu sampai saat ini masih membekas dan teringat olehku. Kejadian di mana aku dan keluargaku sedang bercanda dan mengobrol dengan tetanggaku, entah apa yang dibicarakan. Sekian lama aku duduk di samping ayahku dan sesekali menjadi bahan pembicaraan mereka, aku pun mulai bosan dan jenuh dengan suasana ini.
Aku ingin bermain, namun bingung mau main apa. Aku melihat ayah sedang menyalakan rokoknya, tiba-tiba ide bagus berlalu di otakku,  dengan cepat kilat aku menyambar korek api itu sebelum dimasukkan ke saku ayahku. Namanya juga anak kecil pasti ada saja ulah yang bikin jengkel.
Dengan semangat 45 aku berlari ke dalam rumah untuk menjalankan ide bagusku. Dengan susah payah aku mencari kertas dan plastik yang bisa kubakar, aku sudah mencari di kamar, di ruang tamu, di kamar mandi, di samping rumah, di dapur, dan yang belum aku cari adalah di tempat sampah, “Aha, ketemu juga kamu, dari mana aja sih kamu dari tadi aku cari tau”, kataku pada kertas itu saat ku temui di tempat sampah.
Satu per satu kertas itu aku bakar, api yang berkobar-kobar bagaikan bandung lautan api, bahkan senang di hatiku juga ikut berkobar-kobar saat itu. Kejadian itu berawal dari kepulangan pamanku yang bekerja di RS. Entah mengapa dan untuk apa kepulangannya membawa botol impus bekas. Aku pun minta botol impus bekas tersebut dengan tujuan untuk di bakar, “Paman, botol impus itu buat rudi ya” kataku dengan memasang muka berharap. Tanpa menunggu jawaban, botol impus tersebut sudah beralih tangan kepadaku, dan tanpa curiga pamanku membiarkanku dengan botol impus tersebut.
Botol impus tersebut aku bakar bersama kertas yang telah menjadi abu. Tanpa berfikir apa resikonya, bahkan aku juga belum paham apa resiko tersebut. Lalu aku mengambil kayu kecil untuk membalik-balikan botol impus tadi.  Aku makin senang saja ketika botol impus tadi mengembang, namun apa yang terjadi selanjutnya?. Duuaaarr, tanpa ku duga botol itu meletus dan mengenai bagian kanan dan kiri pipiku.
 Kontan saja aku teriak dan disusul tangisan  histeris,”Aduh, aduh sakiitt bu.. aduh aduh”. Mendengar teriakan dan tangisanku seisi rumah menghampiriku dan segera menolongku, sampai-sampai tetanggaku juga menghampiriku. Aku tak peduli mereka, aku terus menangis dengan histerisnnya.
Kurasa lukaku sangat sakit. Sekian lama aku menangis, pamanku pun mengambil sepeda motornya. Bersama ayah dan pamanku, aku di bawa ke rumah sakit tempat pamanku bekerja. Di sana aku di rawat oleh dokter yang baik dan suster yang cantik. Aku di beri obat dan saleb untuk di oleskan di pinggiran lukaku. Walaupun sudah di beri obat tapi rasa sakit masih melekat di pipiku apalagi saat di olesi saleb tersebut.

Sesampainya di rumah aku di suruh makan dan minum obat yang di kasih dokter tadi. Walau dalam keadaan masih menangis dan menahan sakit, aku yang biasanya doyan makan, jadi tidak selera makan, aku hanya makan setengah dari isi piring tersebut.
Keesokan harinya setelah mandi pagi sakit di pipiku yang tembem kembali ku rasakan, karena terkena air di saat mandi dan terkena goresan baju saat memakai baju tadi. Seperti anak kecil lainnya yang saat sakit pasti nangis, hal itulah yang terjadi padaku. Di kamar aku menangis dengan kencangnya sampai kakakku terbangun dari mimpi indahnya.
Dengan berbagai cara ayahku mendiamkanku, di belikan jajan, permen, namun rasa sakit itu tidak bisa di obati dengan jajan ataupun permen. Lalu ibuku datang membawa pasta gigi dan mengoleskan pasta gigi tersebut ke lukaku, karena efek dingin dari pasta gigi tersebut membuat rasa sakit sedikit hilang dan membuatku sedikit tenang, namun aku tetap nangis walaupun tak sekencang tadi.
Saat aku sedang asik nonton kartun di siang hari, tiba-tibaku lukaku terasa perih, aku terus merengek-rengek dan aku pengen cepet sembuh. “sakit bu.. sakit, rengekku pada ibuku”. “ya nanti bakalan sembuh kalau kamu tidak nangis terus, jawab ibuku menenangkanku”. Di saat itu pula ayahku pulang kerja dengan membawa martabak dan mainan kesukaanku. Entah kenapa sakit itu tak kurasakan lagi. Aku hanya asik makan martabak sambil main mainan kesukaanku. Tiba-tiba aku mendengar suara yang tiap hari ku dengar. “kok gak nangis lagi” ledek ayahku, “biarin, nangis terus jadi laper, mending makan martabak aja” jawabku yang di susul tawa kakakku.
Saat matahari mulai lelah menerangi bumi ini, ibuku menyuruhku minum obat dan ia mengoleskan saleb pada lukaku. Namun aku langsung minta untuk mengoleskan saleb itu sendiri, tapi apa yang terjadi? Aku kembali menangis karena tanganku terlalu keras menekan ke lukaku. “aduuhh,  periiihhh”rengekku, “ di obati ibu gak mau, ngobatin sendiri gak bisa, nangis lagi” kata ibuku kesal.
Ayahku datang dan menenangkanku dengan menggendongku ke luar rumah. Tak lama kemudian pamanku datang dan menghampiri dan menannyakan keadaanku. “gimana rud, kok masih nangis aja, cowok kok cengeng, huuu” kata pamanku yang tidak ku jawab, lalu ayah dan pamanku mengobrol panjang lebar yang tidak ku mengerti sama sekali. Akhirnya aku hanya menjadi pendengar yang baik.  
Lama-lama telingaku merasa kenyang dan perutku merasa lapar oleh percakapan mereka. Lalu “ tok.. tok.. tok” Tiba –tiba ada tukang bakso lewat, pamanku pun membelikan bakso itu untukku. “kok dia tahu ya kalau aku lagi lapar” batinku. Entah  karena terlalu lapar  atau karena baksonya yang terlalu sedikit, tanpa malu aku habis 2 mangkuk bakso. Tingkah lakuku ini mengundang tawa setiap orang yang melihatku. Aku tidak mempedulikan mereka dan melanjutkan makan baksoku. Sampai sekarang luka itu masih membekas di wajahku dan bekas itulah yang membuatku ingat dengan masa kecilku yang nakal dan menggemaskan.
Jika aku sedang bercermin dan melihat luka di pipi tembeku ini, aku sering  ingat masa kecilku, aku selalu senyum-senyum sendiri dan merasa malu serta berfikir bahwa tidak selamanya wanita itu cengeng. Bahkan laki-laki pun juga bisa cengeng, contohnya aku, tapi itu dulu, kalau sekarang gak gitu lagi lo.

Selasa, 03 Februari 2015

DRAMA TENTANG CINTA LINGKUNGAN



TEMA: PEDULI LINGKUNGAN

JAGALAH CINTAKU AGAR SUBUR
D
i sebuah sekolah yang lumayan terkenal yaitu SMPN I BANDUNG, terdapat sekelompok remaja yang sangat menyukai dunia elektronika. Mereka selalu mengikuti perkembangan IPTEK yang berhubungan dengan elektro. Mereka terdiri dari  4 anak, yaitu: Anisa,Ndari,Reni,dan Febri. Mereka ber-4 sudah sahabatan sejak awal masuk SMP, Febri selalu merasa kepedean karena diantara 4 anak itu dia yang cowok sendiri, jadi dia merasa yang paling ganteng. Kegiatan mereka sehari-hari  waktu istirahat adalah ngumpul di taman sambil browsing ke internet tentang dunia elektro, kadang nongkrong di perpus. Sebenarnya mereka semua tidak terlalu pintar sekali, hanya saja mereka rajin. Dengan seringnya dia bergelut dengan dunia elektro, kadang Febri kurang perhatian dengan keadaan lingkungan, Febri suka seenaknya ngapain aja. Kadang dia suka membuang barang-barang sisa percobaan elektro di sembarang tempat padahal itu semua kan gak ramah lingkungan. Sebenarnya sama P.Zein sudah di kasih tau untuk memusnahkan sampah itu, tapi Febri masih tetap aja ngelakuin hal itu. Pada suatu hari P.Zein ngasih tau bahwa akan ada lomba cipta robot sederhana untuk tingkat SMP, akhirnya setiap hari mereka dibimbing P.Zein agar hasil mereka memuaskan dan dapat menjadi pemenang pada kompetisi itu. Setelah cukup pembekalan dari P.Zein, kini tinggallah saatnya mereka mencoba materi yang sudah diberikan P.Zein. Mereka mulai mempersiapkan bahan-bahannya, setelah siap semuanya mereka bingung, karena mereka tidak punya tempat untuk menjalankan misi itu. Sebenarnya sih bisa pakai lab di sekolah, tapi mana mungkin seandainya kita lembur sampai malem. Febri punya ide, dia meminta kepada ayahnya agar dibangunkan tempat untuk merakit robot itu. Memang sih ayah Febri seorang pejabat yang kaya, apapun yang diminta Febri pasti diturutin termasuk Febri minta mobil langsung di beliin. Nah, muncullah permasalahan itu, yaitu tidak adanya lahan untuk membangun laboratorium mereka. Karena Febri ini orangnya mudah terhasut omongan orang lain(bego banget ya),apalagi yang ngasih tau cewek yang di taksirnya yaitu Nadine. Nadine itu  juga teman mereka ber-4, tapi mereka  gak banyak tahu tentang dia karena dia pendiam dan tertutup. Tapi sebenarnya Nadine nggak suka sama tiga serangakai ini karena nadine menganggap kepopulerannya karena kecantikannya sirna sejak mereka selalu memenangkan kompetisi cipta robot. Akhirnya Nadine pun mengacaukan kekompakan mereka, dengan Nadine ngasih saran ke Febri agar menyuruh ayahnya membeli tanah yang digunakan untuk daerah resapan air sekaligus tempat tumbuhnya pohon-pohon yang subur sebagai aset dunia (Nadine tau kalau Anisa paling gak suka dengan orang yang nggak jaga kelestarian lingkungan,kan anisa itu anak alam banget). Nadine pikir dengan melakukan ini kelompok elektro mereka pecah, selesai dan kepopuleran mereka redup, dan nadine kembali populer lagi. Mendengar masalah itu anisa marah-marah tidak karuan, Nadine yang dianggapnya baik,suka njaga lingkungan ternyata tega menyuruh Febri membangun bangunan di lahan resapan air. Anisa mengetahui ini semua dari Reni yang sangat kepo terhadap segala sesuatu, Reni tanya-tanya ke teman-teman Nadine, dan akhirnya Reni tau yang sebenarnya,lantas diceritakan ke Anisa. Setelah Anisa tau Anisa coba menyadarkan Febri bahwa jangan semena-mena pada lingkungan, lingkungan itu sangat berguna bagi kita semua. Anisa semakin marah ketika melihat para pekerja yang membangun tempat itu menebangi pohon yang ada di lahan itu, apalagi di sana terdapat Nadine, Anisa langsung teriak-teriak menghentika aksi ini, aksi itu terhenti,Nadine hanya bisa terdiam melihat Anisa seperti itu, Reni coba menenangkan Anisa, Kemudian datanglah Ndari bersama pak zein, P.Zein coba menyelesaikan masalah ini, yakni memberikan solusi tentang tempat untuk praktek mereka, dan mengurusi Nadine . mereka semua memaafkan Nadine, dan semuanya berakhir dengan tawa.

Di sebuah sekolah yang lumayan terkenal yaitu SMPN I BANDUNG, terdapat sekelompok remaja yang sangat menyukai dunia elektronika. Mereka selalu mengikuti perkembangan IPTEK yang berhubungan dengan elektro. Dan memang kebetulan mereka satu kelas.
Bel istirahat berbunyi.
Anisa     : eh guys habis beli makanan aku tunggu kalian di taman ( berbicara kepada Ndari,Febri,dan Reni).
Reni       : okay loe bawa lepi nggak.?
Anisa     : ya bawalah, katanya anak elektro. hehehe ( tersenyum bangga), udah buruan beli makanan sana.
Ndari     : emang loe nggak beli makanan nis, aku beliin ya.
Anisa     : ow iyha maksih nggak usah makanan deh,, eh-eh tapi minum aja ya, es teh.
Febri      : hemmb, katanya nggak usah tapi tetep minta yang lain dasar modus.
Anisa     : biarin mumpung gretong,,( sambil tersenyu cekikikan) nggak pa-pa kan ndar?(sambil meyakinkan ndari).
Ndari     : nggak papa kok,
Anisa     :  tuh denger Ndari aja nggak keberatan, kok loe yang repot sih feb?
Reni       : sudah2 yuk buruan, nanti jam nya abis, tau. (berkata super lebay)
Anisa     : siapa juga yang akan doyan makan jam?
Reni       : bercandanya jelek (cemberut).
Mereka semua tertawa, mendengar lucuan Anisa, dan bergegas ke kantin. Beberapa menit kemudian mereka menghampiri Anisa yang sedang mengutak-atik laptop sambil membawa makanan.
Ndari     : ini nis minumnya.
Anisa     :  ehmm makasih cantik.
Reni       : ih Ndari doank yang cantik, aku enggak sebel deh ( berkata dengan lebay dan sok cantik)
Febri      :  kita mau ngapain disini.
Anisa     : eh lo lupa ya kebisaan  kita, jangan2 loe amnesia ya,, apa loe bukan Febri.?
Febri      : ngaco loe,, gue Febri kok, tapi kok tumben , kayaknya serius banget, khan bisanya kita santai di prpustakaan.
Anisa     : pekerjaan kita kali ini membutuhkan browsing internet feb, nggak cuma sebendel kertas yang berisi tulisan , buku-buku maksud gue (menambahkan kalimatnya)
Reni       :  emangnya apaan sih, mau ada kompetisi lagi ya.
Anisa     : ha itu tau, sebentar lagi ada lomba cipta robot sederhana tingkat SMP se-kab.( Sambil melirik ke Febri, yang menatapnya dan Anisa tau apa yang di akan ditanyakan Febri) yang ngasih tau P.Zein, Febri.
Febri      :kok loe tau gue mau nanya itu.
Anisa     : tau lah orang tatapan mata loe jelas banget.
Tiba-tiba pak zein datang.
P.Zein   : (dengan karakter kalem,lembutnya pak zein menjelaskan) anak-anak sudah tau kalo mau           ada kompetisi cipta robot sederhana?
Reni       :udah bapak. Anisa yang ngasih tau..
P.zein    : kalo udah tau nanti siang saya tunggu di markas besar kita ya,, setelah pulang sekolah(sambil tersenyum,soalnya pak zein kayak nggak bisa tertawa hanya bisa tersenyum walaupun kejadiannya sangat lucu)
Febri,Reni:(menjawab bersamaan,dan bersemangat) okey pak.
Ndari     :cie ada yang kompakan nih, (meledek mereka)
Anisa     : (menimpalkan balik) ecie,,ada yang cemburu nih.
Febri      :sudah-sudah., mulai cekcoknya, cewek tu ribet.
Anisa     : ngomong apa loe.. loe bilang cewek ribet? Mau gue tonjok.( marah ke febri)
Ndari     : iyha tuh. , ngomong seenaknya aja ( menambah perkataan anisa).
Reni       : tau tuh, aku khan paling gak suka kalo cewek di bilang ribet, cewek itu khan makhluk yang indah,(berbicara dengan sedikit lebay)
Ndari     : reni sayangku, stop lebaynya,
Reni       : aku tu gak lebay taug ,(cemberut lagi).
Ndari     : (sambil menjiwit pipi reni) ,jangan marah donk,ntar cantiknya hilang lo.senyum donk
Reni       : (sambil tersenyum) hhmmb,iya. Yuk kita lanjutin browsingnya.
Anisa     : ayo.
Sementara mereka melanjutkan brwsingnya, di balik pohon ada Nadine yang sangat benci dengan keakraban,candaan,tawa,kekonyolan,ketololan.dan.kelebay-an mereka.
Nadine : (menggerutu) kenapa sih mereka harus bisa se-akrab itu, bikin iri aja, aku khan gak ada temen akrab,
Bel masuk berbunyi.
Febri      : guys ,, yuk masuk kelas,
Reni       : ayo..
Anisa yang melihat nadine duduk sendiri di balik pohon menyapanya
Anisa     : nadine ayo masuk kelas kenapa tadi nggak bareng sama kita-kita.
Nadine : hemmb iyha.
Ndari     : iya kenapa nggak kumpul sama kita aja.(heran)
Nadine : nggak kenapa –napa kok, aku takut ngganggu kesibukan kalian.
Ndari     : ihh nggak papa kali.. udah yuk.
Pelajaran berlalu dengan lancar dan tibalah saatnya untuk pulang, keempat anak itu segera bergegas menemui masternya di marakas besar mereka. Dari kejauhan tampak P.Zein sudah duduk di depan lab. Febri menyapa P.Zein.
Febri      : siang pak zein...(berteriak dari kejauhan sambil berlari)
P.Zein   : hemmb iya, siang juga Febri (dengan ekspresi datar)
Febri      : bapak kenapa kok lemes nggak semangat?
P.Zein   : nggak papa kok bapak cuma capek aja,nanti kalo udah bareng bercanda sama kalian semua pasti ilang capeknya (sambil nunjuk ke mereka ber-4)
Anisa     : beneran pak, kalau bapak capek istirahat aja, jangan di paksa, kita bisa belajar sendiri kok pak.(sok perhatian banget haha)
P.Zein   : sudahlah nggak pa-pa.., ayo kita mulai.
Mereka benar-benar siswa yang sangat rajin dan serius, mereka selalu memperhatikan apa yang telah di sampaikan Pak Zein. Mereka sangat menghargai Pak Zein, biasnya kalau anak-anak seusia mereka, dikasih penjelasan pasti ada yang celometan, tapi sangat beda sama mereka. Sementara mereka serius membaca buku referensi,Pak Zein mengagetkan mereka dengan berbicara.
P.Zein   : satu yang harus kalian ingat, kalian memang harus punya mimpi, tapi kalian nggak usah bingung untuk mewujudkan mimpi itu dengan rumus-rumus yang rumit, hanya perlu mempercayai bahwa mimpi itu akan terwujud dan taruh mimpi itu 5 cm di depan kening kalian.
Anisa     : pak, bapak dapat kata-kata itu dari novel  5 cm ya.. karya Dony Dhirgantoro khan,, soalnya aku kemarin baru baca,.hehehe(berlagak sok tau)
P.Zein   : iya anisa, kamu benar,bapak juga baru selesai membacanya,
Anisa     :hehehe,(tertawa bangga karena udah lebih tau dari teman2nya)
P.Zein   : kamu suka baca novel.?
Anisa     : nggak terlalu sih pak,
P.Zein   : owh iya, dan Febri jangan suka buang sisa-sisa barang praktikum ke sembarang tempat barang itu khan nggak ramah lingkungan,.
Febri      : eh,. Iya-iya pak..
Reni       : Cuma iya-iya doank. nyatanya mana, janji palsu (sambil cemberut lagi)
P.Zein   : untuk pembekalan kali ini selesai, anak-anak silahkan kalian coba rakit robot yang konsepnya dapat ngeringankan pekerjaan manusia.
Ndari     : iya pak,kapan  kita bisa memulainya.?
P.Zein   : besok juga bisa, tapi buat sendiri ya ,tanpa bantuan saya, nanti jika sudah bener-bener nggak bisa baru bapak bantuin.
Reni       : tempatnya?
Ndari     : ya disini lah cantik.
Febri      : tapi kalo kita mau lembur sampai malam gimana?
Anisa     : udah itu di pikir nanti aja.
P.Zein   : sudah ya anak-anak, bapak pulang dulu, kunci ruangan ini kalian aja yang bawa,
Febri      : okey pak.
Pak zein  pulang, mereka pun keluar ruangan itu. Tiba-tiba reni berbicara di saat mereka bersia-siap pulang.
Reni       : yah,, dimana kita ngrakitnya ?
Febri      :aku punya ide , aku minta ayahku aja , biar di bangunin tempat buat markas kita
Ndari     : owh,tumben  pinter ,kamu cepetan ngomong ya , besok kasih tau kita.
Febri      : ok guys. Udah yuk pulang.
Sampai di rumah Febri langsung bilang ke ayahnya, ayahnya menyetujui namun masalahnya tidak ada lahan untuk membangun itu. Keesokan harinya di sekolah.
Febri      : (berlari menuju bangku taman yang disana ada teman-temannya), temen-temen.
Reni       : eh  febri, gimana?
Febri      : sama ayah sih udah boleh tinggal nyari lahan aja.
Pada saat itu Nadine berada di balik pohon mengintai mereka, dan muncullah otak licik Nadine. Pada saat itu Febri sedang  jalan menuju kelas sendirian,dan Nadine mengejarnya.
Nadine : Febri.. (berlari mengejar febri)
Febri      : (wajah Febri senang, berbunga-bunga karena di panggil cewek yang di sukainya),ada apa Nadine.
Nadine : kamu bingung tentang lahan untuk bangun lab ya,? kenapa nggak coba di lahan kosong di dekat rumah kamu yang ditanami poho-pohon itu.
Febri      : owh iya-ya, deket lagi.makasih ya udah ngingetin aku cantik. (bodoh banget febri kok langsung nurut ya)
Nadine                 :iya,sama2 (tersenyum)  ayah kamu pasti mau beli itu untuk kamu.
Febri pun pulang, dia bilang ke ayahnya , ayahnya juga menuruti permintaan Febri. Febri ngasih tau ke teman-temannya untuk ngeliat lahannya besok, kebetulan besok libur. Ndari yang mengetahui bahwa lahan itu adalah lahan untuk resapan air dan daerah penghijauan langsung berpikir, dia berpikir pasti Anisa langsung marah. Dia langsung berputar otak, menghubungi P.Zein untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan besok. Reni juga tau tentang hal itu, karena dia keceplosan, dia ngmong ke Anisa. Padahal Ndari sudah melarangnya(bego’ banget ya). Tiba keesokan harinya Anisa segera bergegas ke tempat itu. Sesampainya di sana, Anisa langsung shock, teriak-teriak (kayak orang gila aja ,haha)
Anisa     : (bertiak-teriak keras, menahan marah benci dan kesedihannya melihat lahan itu sudah gersang)cukup .sudah. hentikan,, jangan tebang cinta ku begini, sehausnya kalian semua harus bisa jaga cinta ini agar subur, kamu ngerti feb, kamu seharusnya jaga cinta ini agar subur feb, nggak malah nebangin cinta nggak karuan,, lagian kamu nggak ingat sama kata-kata aku tolong jaga cinta agar tetap subur(berbicara sedikit pelan, dan terhenti,gaya bicara Anisa mulai lebay, mulai bersair sok pakai peribahasa)
Febri      :maaf anisa, kok cinta sih..?(berlagak nggak tau, bingung)
Anisa     : masak sih kamu nggak ngerti,. Cinta itu sama dengan pohon, karena pohon adalah bentuk cinta ku ke alam, kamu tau kan pohon itu aset lingkungan, paham pohon itu cinta feb.,
Reni       :(berusaha menenangkan Anisa) sudah-sudah Anisa selesai,, minum dulu.(Reni mendekati Febri dan bicara dengan halus,lembut,tapi setengah memarahi febri dan memaki febri) febri kamu sudah puas, bikin anisa seperti itu, emang  jarang orang yang cintanya ke lingkungan berlebihn ,tapi ini perlu di contoh. kamu tolol,bodoh febri.( nada nya semakin tinggi,berbicara ke nadine) lagian kamu Nadine, kalo kamu benci sama kita itu nggak gini caranya, nggak harus ngancurin persahabatan kita, kamu memanfaatkan rasa cintanya Febri ke kamu dengan kamu ngelakuin hal semaumu.gitu?
Nadine hanya bisa terdiam, kemudian datanglah Ndari bersama P.Zein, Ndari mendekati Anisa, dan P.Zein pun menengahi mereka.
P.Zein   : cukup-cukup sudah , Nadine kamu ini bener-bener  ya, kalau memang mau terkenal raihlah prestasi jangan seperti ini.,saya juga sangat nggak suka kalo ada orang yang suka ngrusak lingkungan, nggak hanya Anisa saja,, saya sangat sedih melihat semua ini.apalagi tanah ini di khususkan untuk resapan air, tanpa resapan air kota kita banjir tau, lahan resapan itu sangat membantu kita.
Febri      : maaf kan  saya pak., saya mudah percaya omongan orang tanpa pikir panjang.(menyesal)
P.Zein   : sudah-sudah sekarang bapak punya solusi untuk lab kalian, kalian bisa gunain gudang bapak, besok sepulang sekolah kita bersihkan sama-sama,
Febri      :iya pak.(berjalan mendekati Anisa) nis... aku minta maaf ya, aku terlalu egois,, aku terlalu mengikuti perasaanku.
Anisa     : iya feb, sudahlah aku sudah maafin kamu.
P.Zein   : sudah Nadine ayo ikut saya.. ok anak-anak hebatku selamat berkarya, bapak tunggu kalian besok, bapak mau ngurus masalah yang ini., Nadine ayo minta maaf ke mereka semua.
Nadine : maaf ya teman-teman aku khilaf, aku nggak ngira ternyata kalian semua itu baik ke aku, tapi aku malah ngejahatin kalian
Ndari     :iya din. Semoga ini bisa jadi pelajaran yang sangat berharga dan akan selalu ku kenang.
Anisa     : iyha din.
Reni       : iyha kita masih mau jadi temen lo kok.
Nadine : makasih temen-temen,
Mereka semua berpelukan , dan febri menyusul akan meluk mereka namun pak zein mencegah.
P.Zein   : (berbicara agak cepat dan mengagetkan) eh.. febri.. stop.(sambil menggelengkan kepalanya) bukan mukhrim nak.
Febri      : (tersenyum) owh., ok pak.saya khilaf pak.
Mereka semua tertawa.persahabatan yang sungguh indah.

šššššššššš SELESAI