Senin, 06 April 2015

DRAMA BAHASA INDONESIA 6 ORANG



Menentang Pilihan
Karakter tokoh:
1.      Taniya: umur sekitar 17 tahunan, pintar, penurut, baik hati, rajin.
2.      Bapak: umur sekitar 40 tahunan, tegas, keras kepala, pemaksa.
3.      Ibu: umur sekitar 39 tahunan, penyayang, sabar, penurut.
4.      Emilia: umur sekitar 17 tahunan, riang, semangat, baik hati, penyayang.
5.      Indri: umur sekitar 17 tahunan, centil, baik, perhatian.
6.      Novan: umur 17 tahunan, pengertian, baik, riang.
Malam yang gelap, di kamar yang tentram, nyaman dan menenangkan hati pemiliknya.Kamar Taniya, kamar yang terdapat sebuah mading kecil buatan tangannya yang dirangkai dengan penuh pengorbanan.Sebagai sarana menuangkan hobi menulisnya.
Kriiik kriik kriikkkk….
Taniya:”Kayaknya udah deh ini, hehe proposal hidupku. Siip, siap ditempel.(sambil menempelnya ke mading kecilnya)
Bapak:”Ehemm..”(komat-kamit membaca coretan Taniya di mading)”Bapak sudah cabut data kamu di SMA 2.”
Taniya:”Apaaa? Tapi kenapa pak? Bukankah SMA itu bagus? Terkenal dan idaman banyak orang…”(dengan nada menggertak)
Bapak:”Kamu pasti sudah tau alasannya apa?Bapak sudah bilang berkali-kali bapak tidak pernah setuju kamu sekolah di sana. Tapia apa? kamu diam-diam ikut seleksi. Bapak sudah trauma nyekolahin anak di SMA 2, lihat mbakmu, jadi apa sekarang?”(dengan nada membentak)
Taniya:(memasang wajah cemberut)”Mbak ya mbak, aku ya aku. Kenapa harus disama-samain?”
Ibu:(masuk dari balik pintu, duduk di samping Taniya sambil mengelus pundak Taniya)”Sudah lah nduk. Kamu turutin aja kata bapak. Ndak cuma bapak aja yang trauma, tapi ibuk juga sama.”
Taniya:”Tapi kan buuk..Aku pengen banget sekolah di situ.Ijinin dong pak.”(memelas)
Bapak:“Bapak tidak peduli, biayai sendiri sana sekolahmu di SMA 2. Ayo buk kita pergi!”bruuuaaakkk(meninggalkan Taniya dan Ibu di kamar)
Ibu:”Nduk kamu kan ngerti bapak itu orangnya keras kepala. Kamu turutin aja maunya bapak”.
Taniya:”Iya deh buk, tapi...”


Ibu:”Yasudah ibu tinggal dulu ya nduk”
Taniya:(mematung kaku di depan mading. Sambil menangis terisak tak kuasa ia menahan air matanya karena mimpinya terbunuh begitu saja)”hhiiikkss hiikkksss…semua mimpi yang aku perjuangkan kini sudah terputus.Hancuur begitu saja.”
Siang hari di ruang tamu.Ketiga sahabat Taniya berkunjung ke rumahnya untuk menghibur Taniya.
Indri, Emilia, dan Novan:” Assalamualaikum…”
Ibu:(membuka pintu)”waalaikum salam. Eeehh kalian, nyariin Niya ya?Niya lagi di kamar, dari pulang sekolah nggak mau keluar kamar.Ayo silakan masuk, biar tante panggil Niya dulu.”
Emilia:”Iya tante..”(tersenyum manis)
Novan:”Eh ndri, Niya tadi kok aneh ya? Dia kelihatan lesu.Ada apa sih?”
Emilia:”Iya iyaa..biasanya kan dia selalu ceria.”
Indri:”Mungkin dia ada masalah, tadi aku ajakin bicara dia kayak nggak ngrespon gitu.”
Taniya:(datang dari kamarnya langsung duduk di samping Indri dengan cuek).
Ibu:(datang dari dapur membawa 3 cangkir teh untuk sahabat Taniya)”Ayo ini diminum dulu.”
Emilia:”Hehe, iya tante. Kok repot-repot.”
Ibu:(tersenyum lebar)“Udah diminum aja. Ndak usah sungkan, anggap aja rumah sendiri.”
Novan:”Iya tante, tante tau aja kalo saya lagi haus.”
Indri:(menyubit tangan Novan)”Hehe, biasa tante Novan akhir-akhir ini suka bercanda.”
Bapak:”Ehh udah lama?”(sambil sersalaman dengan ketiga sahabat Taniya)
Emilia:”Baru aja om.”
Bapak:”Om tinggal ke belakang dulu ya.”
Novan:”iya om”
Indri:”Ya kamu kenapa? Cerita dong ke aku!”
Taniya: “Aku lagi sedih Ndri, mimpiku hancur. Bapak nggak ngizinin aku sekolah di SMA 2.”
Indri:”Udah lah, sekolah negri masih banyak kok. Nggak usah difikir.”
Taniya:”Tapi Ndri, Cuma di SMA 2 aja yang punya jurusan bahasa.Lainnya enggak.”
Bapak:”Biar saja Ndri, wong dari awal sudah tak larang sekolah di sana. Tetep ngeyel aja….wes gini aja kamu pilih SMA 3 apa SMK. Kalau pilih yang lain karuan nggak usah sekolah”(timpal bapak dari balik pintu tengah)
Emilia:”Udah di SMA 3 aja, kenapa sih? Kita juga mau ke sana.”
Novan:”Iya Ya… Kita juga mau daftar ke SMA 3, kita akan berkumpul lagi seperti masa-masa SMP. Kalau kamu mau, nanti waktu daftar aku jemput deh..kita daftar bareng-bareng gimana?”


Emilia:”Setuju-setuju.”
Ibu:(datang dari belakang)”Teman-temanmu aja mau sekolah di SMA 3, lagian kan dekat dari rumah, jadi ibuk ndak kuwatir nduk.”(mengelus rambut Taniya)
Taniya:”Yaudah aku sekolah di SMA 3.”
Indri:”Udah sore nih Ya. Kita balik dulu ya?”
Ibu:”Loh kok cepet-cepet? Tehnya aja belum habis.”
Novan:”Hehe, besok-besok kita main kesini lagi.”
Ibu:(tersenyum sambil bersaliman)
Emilia:”Kita balik dulu ya Ya, Assalamualaikum.”
Bapak, Ibu, Taniya:”Waalaikumsalam.”
Bapak:”Naah, gini kan bagus, sekolah di SMA 3 nggak usah jauh-jauh jalan aja udah sampek ya buk.”
Ibu:”Iya pak biar kita ndak khawatir lagi.”
Taniya:(diam  tak menjawab, sembari menuju kamarnya)
Keesokan harinya, saat pendaftaran.
Emilia:”Aduuuhhh, tinggal nunggu hasilnya nih.”
Novan:”Iya niih, aku jadi takut.”
Taniya:”Takut kenapa?”
Novan:”takut nggak lolos.Wah kamu urutan 45 Ya.” (Sambil melihat papan dari kejauhan)
Pengumuman pun telah ditetapkan Novan, Indri, dan Eilia tidak lolos tes dan tidak bisa bersekolah di SMA 3 bersama Taniya.
Emilia:”Wahh..kamu hebat Ya bisa masuk SMA 3.”(menepuk pundal Taniya)
Taniya:”Apa kalian lupa?”
Indri:(menangis)”Iya Ya.. kita bakalan nggak satu sekolah lagi, nggak bisa kumpul lagi kayak masa-masa di SMP dulu.”
Novan:”Iya, kalau sudah begini ya mau gimana lagi?”
Emilia:”Hiiiikkksss, kamu jaga baik-baik ya Ya, aku, Indri, sama Novan nggak bakal nglupain kamu. Kita semua sayang sama kamu.”(sambil memeluk Taniya)
Taniya:”Iya Mil, (menangis menyesal).”
Novan:”Udah jangan nangis kek gitu Mil.”
Emilia:”Aku kasian Taniya, dia udah ngebelain daftar kesini tujuannya ya biar bisa bareng sama kita. Tapi, liat kita aja nggak masuk. Kasian Taniya, dia sendiri.”
Indri:(menahan air mata)
Novan:”Taniya udah gedhe Mil, dia bisa kok adaptasi. Nggak kayak waktu dulu masih kecil.”


Indri:”Kamu nggak papa kan Ya?Seenggaknya kamu udah nurutin kata bapakmu.”
Taniya:(tersenyum pahit)”Udah deh guys aku nggak papa, kalian jaga diri baik-baik ya. Aku bakalan kangen sama canda tawa kaliyan semua.”
Emilia:”Iya Yaa, aku ndak bakal nglupain kamu.”
Novan:”Ayo kita pulang aja.”
Taniya:”Gimana kalo kita ke kafe kayak biasa.”
Emilia:(sambil mengusap air matanya)”Enggak ah aku males, sedih nggak sesekolah sama Taniya.”
Novan:”Alaaahhh nggak usah gitu Mil, aku tau kalo kamu itu mau aku traktir.”
Indri:”Ohh iyaaa ini ulangtahun mu kan? Met ultah ya Vaann!!”
Taniya:”Masak siiihh? Happy birthday Van!”
Novan:”Iya makasih, hehe. Gimana Mil ikut nggak aku traktirin?”
Emilia:(menahan malu)”Yaudah ayoo!”
Taniya:”Miil Miill… ada-ada aja!”(tertawa)
Novan:”Udah dari dulu kek gitu.”
Indri:”hahaha iya iyaa.”
Emilia:”Selamat ulang tahun ya Van.”(sambil mengulurkan tangan, tersenyum menahan malu.”
Novan:(berjabat tangan dengan Emilia, sambil tersenyum lebar)”Terimakasih Emil, hehehe.”
Emilia:”Apa-apaan sih kamu nih. Udah diucapin selamat ulang tahun malah ngejek gitu mukanya.”
Taniya:”Udah dari sononya mukanya kek gitu”(tertawa lepas)
Indri:”Hahaha…. Ada-ada aja kalian guys.”
Taniya:”Loh, emang bener!”
Novan:”Kok jadi aku yang dibuli, resek deh.”
Emilia:”Hahaha kamu kan ulang tahun hari ini, masih mending cuma dibuli kalo kita siram telur, tepung, sama air emang mau?”
Novan:”Enggak deh, jangan. Nanti ketampananku hilang dong.”(mengelus rambutnya)
Indri, Taniya, Emilia:”Hahahaha…”
Novan:”Nanti karisma ku jadi luntur kena telur, hancur terkena tepung dan hanyut tersiram air.”
Indri:”Itu karisma apa roti?”
Novan:”Enak aja, ya karisma lah masak roti. Kamu aneeh, lucuuuu. Hahaha..”
Taniya:”Udah jangan diladenin.”(melirik sinis ke Novan)
Novan:(membalas melirik Taniya)
Emilia:”Helooooo. Kitanya kapan ke kafe, debat aja dari tadi.”

Taniya:”Katanya nggak ikut?”
Emilia:”Yaudah aku nggak ikut.”(dengan wajah kecewa)
Indri:”Jangan gitu dong Ya! Kasian, Emil nanti kelaperan, kan aku tau banget jam berapa dia laper.”(tersenyum memandang Emilia)”
Taniya:”Nggak nggak Mil aku cuma becanda doang.”
Novan:”Ayo kita capcus!”
Emilia:”Aduh Novan alay.”
           Sesampainya di kafe biasa mereka kumpul.
Novan:”Pesen apa kalian?”
Taniya:”Samaan aja biar cepet.”
Indri:”Kayak biasanya aja.”
Emilia:”Eeitss… emmm aku mau beda (berhenti dan mulai berfikir cepat) eeh..nggak jadi deh. Samaan kaliyan aja.Hehe.”
Novan:”Yaudah aku pesenin dulu.”
Taniya:(menahan air mata)
Indri:”Kamu kenapa Ya?”
Taniya:”Nggak kok Ndri.”
Indri.”Kamu kepikiran itu ya?”
Taniya:(diam)
Emilia:”Udah deh Ya, jangan sedih.”
Taniya:”Aku nggak kuat sama bapak yang selalu menekan aku. Disuruh nurutin apa yang ia katakan.”
Emilia:”Dia nglakuin itu demi kabaikanmu juga Ya.”
Taniya:”Denger-denger bapak mau nyuruh aku ikut kelas IPA. Dan aku nggak suka.Aku sukanya bahasa, itu aja.”
Indri:”Kamu turutin aja, nikmatin setiap langkahmu, pasti menyenangkan.”
Taniya:(terdiam)
Emilia:”Nggak usah sedih deh Ya, kami ada buat kamu kok.”
            Beberapa menit kemudian Novan datang.Setelah mereka selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang.
Keesokan harinya di rumah Taniya
Ibu:”gimana pengumumannya,semua lolos kan?.”
Novan:”nggak tahu te, tanya aja sama Indri!”
Indri:”Kok aku sih? Kamu aja!”

Emilia: (menyenggol Taniya)
Taniya:”Cuma aku buk.”
Bapak:”(datang dari belakang) “Alhamdulillah” (kemudian duduk di sofa)
Ibu:”Gimana sih bapak, yang ketrim Cuma Taniya kok bapakAlhamdulilah?”( sambil menepuk bahu bapak)
Bapak:” Ya bagus dong”
Ibu:”Pak, bapak ndak boleh egois seperti itu. Ibuk juga ndak tega kalau Taniya di sana sendirian, Taniya kan butuh adaptasi.”
Bapak:”Kan, nanti di sana punya tememn baru”
Taniya:”Tapi ndak semudah itu, pak.”
Ibu:”Sudah-sudah. Nanti coba jalur nilai UN saja.”
Indri:”Emang kita bisa?, orang jalur test aja nggak lolos!”
Ibu:”Ya semoga saja bisa,kalian berdo’a saja biar nilai UN kalian bagus. Tante juga ikut ngedoain”
Novan:”Iya amin, amin, amiiin, tante.”
Emilia:”iya amin, biar kita bisa bareng-bareng lagi.”
Bapak:”iya, biar bisa nemenin Taniya”
Novan:”Iya, iya om.”
Indri;”Yasudah, ini sudah sore, ayo kita pulang.”
Novan:’Ayo-ayo”
Emilia:”Yasudah deh. Kita pulang dulu ya tante, om, ya?
Indri,Novan,Emilia: (bersalaman) “Assalamualaikum..”
Bapak,Ibu,Taniya:”Waalaikumsalam..”
Dua hari kemudian pengumuman nilai UN keluar. Novan, Indri, Emilia mendapat nilai UN yang sangat bagus dan mereka bisa diterima di SMA 2, seperti Taniya. Dan mereka langsung menuju rumah Taniya.
Emilia: (dengan wajah bahagia dan semangat) “ayo kita ke rumah Taniya.”
Novan:”ayoo.”
Indri:”Pasti bapaknya, ibuknya dan taniya seneng deh kita bisa kumpul lagi.”

CONTOH CERITA TENTANG PENGALAMAN PRIBADI



 
Luka Letusan
Nakal,itulah julukkan yang pantas untuk masa kecilku. Sebenarnya aku adalah anak yang pendiam dan pemalu, namun meskipun begitu aku sama dengan anak-anak lain yang suka bermain dan bikin jengkel.
  Kejadian itu sudah lama, namun peristiwa itu sampai saat ini masih membekas dan teringat olehku. Kejadian di mana aku dan keluargaku sedang bercanda dan mengobrol dengan tetanggaku, entah apa yang dibicarakan. Sekian lama aku duduk di samping ayahku dan sesekali menjadi bahan pembicaraan mereka, aku pun mulai bosan dan jenuh dengan suasana ini.
Aku ingin bermain, namun bingung mau main apa. Aku melihat ayah sedang menyalakan rokoknya, tiba-tiba ide bagus berlalu di otakku,  dengan cepat kilat aku menyambar korek api itu sebelum dimasukkan ke saku ayahku. Namanya juga anak kecil pasti ada saja ulah yang bikin jengkel.
Dengan semangat 45 aku berlari ke dalam rumah untuk menjalankan ide bagusku. Dengan susah payah aku mencari kertas dan plastik yang bisa kubakar, aku sudah mencari di kamar, di ruang tamu, di kamar mandi, di samping rumah, di dapur, dan yang belum aku cari adalah di tempat sampah, “Aha, ketemu juga kamu, dari mana aja sih kamu dari tadi aku cari tau”, kataku pada kertas itu saat ku temui di tempat sampah.
Satu per satu kertas itu aku bakar, api yang berkobar-kobar bagaikan bandung lautan api, bahkan senang di hatiku juga ikut berkobar-kobar saat itu. Kejadian itu berawal dari kepulangan pamanku yang bekerja di RS. Entah mengapa dan untuk apa kepulangannya membawa botol impus bekas. Aku pun minta botol impus bekas tersebut dengan tujuan untuk di bakar, “Paman, botol impus itu buat rudi ya” kataku dengan memasang muka berharap. Tanpa menunggu jawaban, botol impus tersebut sudah beralih tangan kepadaku, dan tanpa curiga pamanku membiarkanku dengan botol impus tersebut.
Botol impus tersebut aku bakar bersama kertas yang telah menjadi abu. Tanpa berfikir apa resikonya, bahkan aku juga belum paham apa resiko tersebut. Lalu aku mengambil kayu kecil untuk membalik-balikan botol impus tadi.  Aku makin senang saja ketika botol impus tadi mengembang, namun apa yang terjadi selanjutnya?. Duuaaarr, tanpa ku duga botol itu meletus dan mengenai bagian kanan dan kiri pipiku.
 Kontan saja aku teriak dan disusul tangisan  histeris,”Aduh, aduh sakiitt bu.. aduh aduh”. Mendengar teriakan dan tangisanku seisi rumah menghampiriku dan segera menolongku, sampai-sampai tetanggaku juga menghampiriku. Aku tak peduli mereka, aku terus menangis dengan histerisnnya.
Kurasa lukaku sangat sakit. Sekian lama aku menangis, pamanku pun mengambil sepeda motornya. Bersama ayah dan pamanku, aku di bawa ke rumah sakit tempat pamanku bekerja. Di sana aku di rawat oleh dokter yang baik dan suster yang cantik. Aku di beri obat dan saleb untuk di oleskan di pinggiran lukaku. Walaupun sudah di beri obat tapi rasa sakit masih melekat di pipiku apalagi saat di olesi saleb tersebut.

Sesampainya di rumah aku di suruh makan dan minum obat yang di kasih dokter tadi. Walau dalam keadaan masih menangis dan menahan sakit, aku yang biasanya doyan makan, jadi tidak selera makan, aku hanya makan setengah dari isi piring tersebut.
Keesokan harinya setelah mandi pagi sakit di pipiku yang tembem kembali ku rasakan, karena terkena air di saat mandi dan terkena goresan baju saat memakai baju tadi. Seperti anak kecil lainnya yang saat sakit pasti nangis, hal itulah yang terjadi padaku. Di kamar aku menangis dengan kencangnya sampai kakakku terbangun dari mimpi indahnya.
Dengan berbagai cara ayahku mendiamkanku, di belikan jajan, permen, namun rasa sakit itu tidak bisa di obati dengan jajan ataupun permen. Lalu ibuku datang membawa pasta gigi dan mengoleskan pasta gigi tersebut ke lukaku, karena efek dingin dari pasta gigi tersebut membuat rasa sakit sedikit hilang dan membuatku sedikit tenang, namun aku tetap nangis walaupun tak sekencang tadi.
Saat aku sedang asik nonton kartun di siang hari, tiba-tibaku lukaku terasa perih, aku terus merengek-rengek dan aku pengen cepet sembuh. “sakit bu.. sakit, rengekku pada ibuku”. “ya nanti bakalan sembuh kalau kamu tidak nangis terus, jawab ibuku menenangkanku”. Di saat itu pula ayahku pulang kerja dengan membawa martabak dan mainan kesukaanku. Entah kenapa sakit itu tak kurasakan lagi. Aku hanya asik makan martabak sambil main mainan kesukaanku. Tiba-tiba aku mendengar suara yang tiap hari ku dengar. “kok gak nangis lagi” ledek ayahku, “biarin, nangis terus jadi laper, mending makan martabak aja” jawabku yang di susul tawa kakakku.
Saat matahari mulai lelah menerangi bumi ini, ibuku menyuruhku minum obat dan ia mengoleskan saleb pada lukaku. Namun aku langsung minta untuk mengoleskan saleb itu sendiri, tapi apa yang terjadi? Aku kembali menangis karena tanganku terlalu keras menekan ke lukaku. “aduuhh,  periiihhh”rengekku, “ di obati ibu gak mau, ngobatin sendiri gak bisa, nangis lagi” kata ibuku kesal.
Ayahku datang dan menenangkanku dengan menggendongku ke luar rumah. Tak lama kemudian pamanku datang dan menghampiri dan menannyakan keadaanku. “gimana rud, kok masih nangis aja, cowok kok cengeng, huuu” kata pamanku yang tidak ku jawab, lalu ayah dan pamanku mengobrol panjang lebar yang tidak ku mengerti sama sekali. Akhirnya aku hanya menjadi pendengar yang baik.  
Lama-lama telingaku merasa kenyang dan perutku merasa lapar oleh percakapan mereka. Lalu “ tok.. tok.. tok” Tiba –tiba ada tukang bakso lewat, pamanku pun membelikan bakso itu untukku. “kok dia tahu ya kalau aku lagi lapar” batinku. Entah  karena terlalu lapar  atau karena baksonya yang terlalu sedikit, tanpa malu aku habis 2 mangkuk bakso. Tingkah lakuku ini mengundang tawa setiap orang yang melihatku. Aku tidak mempedulikan mereka dan melanjutkan makan baksoku. Sampai sekarang luka itu masih membekas di wajahku dan bekas itulah yang membuatku ingat dengan masa kecilku yang nakal dan menggemaskan.
Jika aku sedang bercermin dan melihat luka di pipi tembeku ini, aku sering  ingat masa kecilku, aku selalu senyum-senyum sendiri dan merasa malu serta berfikir bahwa tidak selamanya wanita itu cengeng. Bahkan laki-laki pun juga bisa cengeng, contohnya aku, tapi itu dulu, kalau sekarang gak gitu lagi lo.